Hidup Dalam Kuasa Roh Kudus

Kebaktian Minggu GDI 17 Mei 2015
Pdt. Amos Hosea

image

Kebaktian 17 Mei

Kis 20:20-24

Kis 1:8
Orang Kristen yg terima Roh Kudus tidak dpt disangkal.

Pengaruh Rasul Paulus :
1. Penyebaran Kristen
Kis 9:17
Saulus penuh Roh Kudus
Tuhan dapat pakai semua orang dan dipenuhi Roh Kudus.
2. Tulisan Perjanjian Baru
3. Pengembangan teologi Kristen

Arti “penuh” Roh Kudus :
Yoh 15:26, : Bsaksi akan Yesus

Perjalanan Rohani Orang Percaya :
1. Penyembahan
– Memberikan hidup scara total pada Tuhan. Ultimate Relationship
2. Persekutuan
– Bertumbuh dalam Than.
3. Pertumbuhan
4. Pelayanan
5. Penginjilan

Komitmen menjadi tawanan roh kudus :
Commitment : An act of committing to a charge or trust; an agreement or pledge to do something in the future.
–> Harus Melakukan!!

Orang-orang yg dipenuhi :
– Keteladanan Hidup
Memberikan pengaruh melalui keteladanan hidupnya.
Tuhan Yesus : 12 Murid, Barnabas, Paulus, Timotius, Orang Lain
Kristen : Orang yg bersikap seperti Kristus.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Raising Your Standard

Kotbah GDI 24 April 2015

image

Standard (bahasa Yunani Kuno) diambil dari analogi : Bendera dari barisan perang, digunakan sebagai titik temu para tentara.

Kolose 1:28 Christ is the one that we proclaim. Ayat ini menjadi titik standard Paulus untuk mencapai titik kedewasaan atau kesempurnaan di dalam Kristus.

Betapa malangnya kita yang hidup di akhir jaman, jika kita tidak mau mulai mencintai firman Tuhan.

Ilustrasi :
Seorang yg selamat dari kapal yg hampir karam memberi kesaksian bahwa banyak yang tewas karena salah memakai pelampung. Padahal jelas petunjuk pemakaian ada di masing-masing pelampung. Tetapi karena terlalu panik mereka tidak menghiraukannya. Sehingga saat menunggu kapal penyelamat datang mereka tenggelam.

Demikianlah kita, kita sudah disiapkan petunjuk yakni firman Tuhan, tetapi malang bagi kita bila kita tidak pernah membacanya sehingga kita tidak selamat saat akhir jaman datang.

1 Petrus 4:8
Love will cover a multitude of sins.

4 (Empat) Proses menuju kedewasaan :
1. Reconciled to God
II Cor 5:18-19

2. Restored of God Given Rights
Luk 15:21-24

3. Rekindled of the gifts of the holy spirit.
Acts 2:38-39

4. Recommissioned to the world.

Posted in Catatan Kotbah | Leave a comment

After All … God’s words is more important than any human in this world

Seminggu berlalu … setelah semua kekacauan yang aku perbuat.

Seminggu berlalu … dan minggu ini akan sepi dari semua kesibukan yang terkait dengan rencana indah kami dan keluarga kami.

Tuhan Yesus, ini adalah masa-masa paling sulit dalam hidupku. Masa di mana semua kenangan buruk telah aku kubur rapat-rapat, merangkak melanjutkan hidup … akhirnya aku bisa tersenyum ceria lagi .. dan senyum itu terpaksa aku hempaskan berganti dengan kepahitan yang terpaksa aku reguk kembali.

Aku bisa menyalahkan orang yang “memfitnah” aku, tetapi … dia juga tidak sepenuhnya memfitnah. Dia hanyalah orang yang merasa “perlu” campur tangan untuk urusan yang dimana apakah diaakan mendapatkan keuntungan dari masalah ini atau tidak aku tidak tau dan aku tidak mengerti.

Aku bisa menyalahkan dunia yang tidak mampu mengampuni dan tidak mau perduli kepada penjelasan dan keberadaanku. Yang menghinaku, yang menolakku … meski Yesus menerimaku.

Aku bisa menyalahkan keluarga yang “sepertinya” cuci tangan terhadap permasalahanku. Tidak mau tau keadaanku, dan tidak mau tau apakah keadaanku akan baik-baik saja atau tidak.

Tuhan Yesus, aku tidak bisa menyalahkan siapapun. Aku tersungkur di hadapanMu. Bapa ini salahku, yang lebih mendengarkan apa kata orang-orang daripada menuruti hati nuraniku. Aku mohon ampun, aku percaya besar kasih setiaMu … dan indah rencanaMu atasku.

Bapa ku tak tau apa maksudMu dari semua ini, tapi ku percaya bahwa Kau melindungiku.

Terimakasih Tuhan.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Cerai !

Suatu hari seorang sahabat menceritakan peliknya rumah tangga yang dia alami. Dan dia bertanya pada saya, apakah dia harus melanjutkan rumah tangganya atau tidak ?

Jelas saya jawab, LANJUT.

Lalu sahabat saya bertanya, kenapa saya tidak boleh bercerai ? Apakah orang yang bercerai tidak akan masuk surga ?

Terus terang saya sangat sedih dengan pertanyaan ini. Tetapi saya hanya bisa menjawab bahwa hanya Tuhanlah yang dapat menentukan seseorang masuk surga atau tidak. Tetapi ini adalah salib yang harus dipikul, kalau kita memutuskan bercerai berarti kita tidak percaya bahwa Yesus adalah Allah yang mendengar jerit tangis kita, yang sanggup pulihkan segala perkara.

Dan di dalam hati saya, .. saya berkata … Tuhan Yesus inilah kami yang hidup hanya untuk mengejar surga dan berkat daripadamu, namun selalu lupa untuk menyenangkan hatimu .. betapa kami tau bahwa perceraian mendukakan hatimu .. tapi kami memilih jalan itu.

Sahabat Rashoova, .. mengapa kita mencari-cari alasan untuk membenarkan tindakan kita dan memberontak terhadap Tuhan Yesus ?

Tidak kah kamu percaya bahwa Tuhan Yesus melarang perceraian ?

Saya berusaha menggali lebih dalma lagi mengenai hukum perceraian dalam keluarga Kristen. Berikut adalah hasil pembelajaran saya secara otodidak :

Di dalam Alkitab jelas tertulis ada larangan perceraian:
Kepada orang-orang yang telah kawin aku–tidak, bukan aku, tetapi Tuhan–perintahkan, supaya SEORANG ISTERI TIDAK BOLEH MENCERAIKAN SUAMINYA. Dan jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya. Dan SEORANG SUAMI TIDAK BOLEH MENCERAIKAN ISTERINYA. (1 Korintus 7:10-11)

Alkitab juga menulis bahwa Allah membenci perceraian:

* Maleakhi 2:16

Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel — juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman TUHAN semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat

Meski Alkitab tidak menulis konsekwensi kutukan akibat perceraian, namun ayat di atas seharusnya cukup membuat kita mengerti agar pasangan suami-istri dari umat Allah tidak melakukan perceraian.
Dalam seluruh Kitab Suci, Maleakhi 2:16 adalah satu-satunya pernyataan yang paling singkat dan jelas mengenai kepermanenan perkawinan.

Jadi apakah kita masih mau ngotot bercerai ? Karena Tuhan baik, keputusannya tetap di tangan kita.

Tetapi jika kita mengaku mencintai Yesus, sanggupkah kita mengambil keputusan yang mendukakan hati Tuhan ? Tak kuatkah kita memikul salib .. bertahan dalam penderitaan hidup karena kita takut mengambil keputusan yang tidak menyenangkan hati Tuhan ?

Posted in Buah Opiniku, Renungan | Leave a comment

Melayani : Anugerah atau Kewajiban ?

Kita sering mendengar anjuran, melayani .. melayani … melayani. Sejauh mana kita memahami konsep “melayani Tuhan Yesus ?”

Ada pula orang-orang yang bangga karena dia “melayani” di gereja masing-masing. Bahkan lebih jauh lagi, tanpa kita sadari “melayani” menjadi ukuran “iman” jemaat di gereja.  Kita punya konsep bahwa mereka yang “melayani” di gereja adalah orang-orang yang lebih suci atau lebih benar daripada jemaat biasa.

Dulu saya berpikir bahwa mereka-mereka yang melayani di gereja adalah orang-orang yang benar, tetapi ketika saya masuk ke dalam tubuh organisasi gereja dan “melayani”, saya menjadi kecewa ketika dekat dengan orang-orang yang melakukan “pelayanan”. Banyak diantara mereka yang suka bergosip, hingga yang berbuat di luar norma.

Ini mengecewakan saya. Dan saya jadi malas melayani.

Tetapi kemudian saya sadar, mengapa saya harus kecewa ? Mengapa saya berhenti melayani ? Kalau saya berhenti melayani, apakah Tuhan rugi ?

Ketika dulu saya dipercaya melayani Tuhan, apakah kepercayaan itu karena kemampuan saya. Bukankah Tuhan dapat melakukan semua hal tanpa melibatkan saya. Bahkan Tuhan dapat memilih orang lain yang lebih baik dan lebih pandai dibandingkan saya. Kesempatan melayani Kristus dimungkinkan semata-mata karena kebaikan Tuhan kepada saya. Dia ingin agar saya mengambil bagian dalam tugas mulia-Nya di bumi ini. Tetapi kemudian saya menyia-nyiakannya hanya karena hati saya menghakimi “orang lain” yang belum tentu lebih buruk daripada saya. Wah saya berdosa dua kali untuk hal ini. Pertama saya menghakimi orang lain, yang kedua saya terlalu sombong menganggap diri saya penting sehingga saya berhenti melayani.

Pengalaman saya mungkin dapat sedikit mengilustrasikan situasi yang terjadi suatu hari di Danau Genesaret. Tuhan Yesus melaut bersama Simon Petrus dan mendapatkan ikan melimpah. Setelah itu, Dia memanggil Petrus menjadi murid-Nya. Jelas bukan kecakapan Petrus sebagai nelayan yang menghasilkan tangkapan berlimpah. Siang malam ia sudah berusaha tanpa hasil (ayat 5). Mukjizat itu adalah bukti kemahakuasaan Yesus. Mengapa Yesus memanggil Petrus melayani bersama, sementara Dia sebenarnya dapat melakukannya sendiri? Bukankah Dia memang datang untuk melayani? (Lihat Markus 10:45.) Bukankah kerap kali para murid-Nya bukannya menolong, justru merepotkan-Nya? Sungguh kasih karunia semata jika Dia menggandeng Petrus dan kawan-kawannya sebagai rekan sekerja-Nya.

Saya menjadi sadar, seharusnya saya bersyukur bahwa saya mendapatkan anugerah melayani. Bukan karena saya hebat, tetapi karena anugerah. Dan bukan pula kewajiban saya, Tuhan tidak butuh saya, tanpa saya pekerjaan Tuhan akan tetap berjalan, akan tetap digenapi.

Posted in Buah Opiniku, Renungan | Leave a comment

Hai diriku sudahkah bersyukur hari ini ?

Hehe udah lama banget ga berkunjung ke blog rashoova yang ke-2 ini.
Kali ini aku mau curhat tentang kebaikan Bapa.

Aku baru selesai sidang 12 Januari 2012 kemarin, berhasil menempuh kuliah 3 semester saja dari batasan normal 4 semester. Hasil karya akhir pun sering dipuji-puji oleh dosen pembimbing. Aku punya pekerjaan dengan gaji yang cukup baik, dimana dengan gaji itu aku bisa tinggal di tempat kost-an yang cukup mewah, makanan yang enak-enak, baju yang bagus-bagus, sepatu, tas .. salon yang bagus … menonton di mall mewah, oh ya gadget yang bagus 🙂

Continue reading

Posted in Renungan | Leave a comment

Meminta yang benar kepada Allah

Pagi ini menerima pertanyaan dari teman.
Sejauh mana harus berdoa dan meminta, mengingat tawar menawar antara Abraham dan Allah tentang penyelamatan Sodom & Gomora dalam Kejadian 18:16-33.

Jika aku mengingat kembali kotbah hari Minggu 6 November 2011, Bapak Pdt Anthony Chang yang ada di kitab Matius 8:1-4, “Tentang Yesus menyembuhkan orang sakit kusta”.

Matius 8:2 Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: “Tuan, jika Tuan MAU, Tuan dapat mentahirkan aku.”

Matius 8:3 Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: “AKU MAU, jadilah engkau tahir.” SEKETIKA itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya.

Apa yang menarik dari pembicaraan di atas?
Adalah bagaiman si orang kusta dengan kerendahan hati sebagai hamba meminta penyembuhan kepada Tuhan Yesus dengan perkataan, “Tuhan jika Kau MAU ?” sembuhkan aku.
Dan tanpa banyak ba bi bu, Tuhan berkata iya Aku mau, seketika itu juga dia sembuh.

Tetapi kalimat “Jika Tuhan mau” disini bukanlah jimat yang bisa membawa doa-doa kita dijawab oleh Tuhan Allah. Karena di taman getsemani Yesus berdoa dan meminta jika boleh supaya cawan itu lalu daripadaNya, tapi Allah menjawab tidak.
Matius 26:39 Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”

Jadi diingat sekali lagi, “jika Tuhan mau” bukanlah jimat supaya doa kita dijawab iya oleh Tuhan.

Seberapa sering kita berdoa terus menerus, hingga ada istilah PUSH (Pray Until Something Happened). Jika kita renungkan, betapa kita memaksakan kehendak kita di atas kehendak Tuhan Allah.
Betapa kita memperalat kuasa Tuhan yang besar untuk mengatasi persoalan-persoalan hidup kita.
Betapa kita tidak mau tahu apa kehendak Tuhan dalam hidup kita, salib apa yang hendak Tuhan letakkan di atas punggung kita, kita mau jawaban “Ya”.

Sahabat, kita harus berhati-hati dengan doa kita. Iya aku percaya, sangat percaya betapa Tuhan Yesus adalah Allah yang baik dan penuh kasih setia. Betapa dia sayang pada kita, maka kita meminta apapun maka akan diberi.
Tetapi sebagai hambaNya, pernahkah kita memikirkan hatiNya, rencanaNya.
Betapa kita tidak percaya dengan rancanganNya, hingga kita PUSH bahkan berpuasa untuk memenuhkan kehendak kita di atas rencanaNya, kita tidak percaya dibalik PUSH dan puasa-puasa kita.

Bila ada yang tersinggung dengan blog saya ini saya mohon maaf, tapi sahabat terkasih saat kita meminta kepadaNya, pandanglah Dia sebagai sahabat, Allah yang maha besar, yang sedih ketika kurang percaya padaNya.

Ingatkah pada Hizkia yang divonis mati oleh hamba Tuhan , lalu ia menangis dan berdoa dan pastilah dia meratap hingga Tuhan menjawab doanya dan menarik kematian itu daripadanya.
(2 Raja 20:5) Baliklah dan katakanlah kepada Hizkia, raja umat-Ku: Beginilah firman TUHAN, Allah Daud, bapa leluhurmu: Telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu; sesungguhnya Aku akan menyembuhkan engkau; pada hari yang ketiga engkau akan pergi ke rumah TUHAN.

Hizkia diberi hidup 15 tahun lagi, tetapi akibatnya dia menurunkan raja-raja yang jahat di mata Tuhan mengakibatkan bangsa Israel dibuang ke Babel.
(17) Sesungguhnya, suatu masa akan datang, bahwa segala yang ada dalam istanamu dan yang disimpan oleh nenek moyangmu sampai hari ini akan diangkut ke Babel. Tidak ada barang yang akan ditinggalkan, demikianlah firman TUHAN.
(18) Dan dari keturunanmu yang akan kauperoleh, akan diambil orang untuk menjadi sida-sida di istana raja Babel.”

Lalu menjawab permintaan Abraham tentang tawar menawar untuk pemusnahan Sodom.
Kejadian 18 :32 Katanya: “Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata lagi sekali ini saja. Sekiranya sepuluh didapati di sana?” Firman-Nya: “Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu.”
Kejadian 19:24 Kemudian TUHAN menurunkan hujan belerang dan api atas Sodom dan Gomora, berasal dari TUHAN, dari langit.
Akhirnya Tuhan tetap memusnahkan Sodom juga, lalu apakah arti tawar menawar yang dilakukan Abraham? Apakah Abraham lebih tahu daripada Allah ?

Mengapa kita tidak mau menundukkan kehendak kita diatas rencana Tuhan ?
Seringkali kita berdoa dan sudha ingin tahu jawabannya ya atau tidak, supaya kita tidak capek lagi berdoa.
Saudaraku aku tidak sedang memvonis siapapun disini, tetapi aku bahkan pernah di posisi seperti ini.

Sekarang aku belajar, hingga menangis dan menangis. Menundukkan kehendakku dan percaya bahwa Tuhan tau yang terbaik buatku.
Apapun yang terjadi, biarlah kehendak Tuhan yang terjadi.
Dan aku berpuasa, berdoa dengan sukacita bukan untuk meminta supaya doaku dijawab “iya”.
Tetapi supaya aku bisa mengalahkan keinginanku, menggantikannya dengan penerimaan sukacita dan damai sejahtera akan janji dan kehendak Allah di dalam hidupku.

Aku masih belajar, belajar mengerti kehendak Allah. Aku bukan yang terbaik, aku jatuh bangun mempelajari kehendak Dia, maka disini aku sharing ini supaya aku punya teman yang sama-sama belajar mewujudkan kemualiaanNya yang besar dan penuh rahasia, tapi pasti yang terbaik dalam hidup.

Amin, Tuhan memberkati kita semuanya ya.

Posted in Buah Opiniku, Renungan | Leave a comment